Team Regu Inti Gudep 08.037-08.038 Pangkalan SMP YMIK

Selamat Datang di Website Sekolah Resmi SMP YMIK,Klik : www.pramukasmpymik.blogspot.com/.

Pengarahan Untuk Kelas IX 2013-2014 Saat Menjelang UN

Pengarahan yang disampaikan Oleh Bpk.Apit S.Pd (Selaku Wakasek) SMP YMIK Joglo Jakarta Barat.

Team Anggota Paskibraka SMP YMIK Joglo Jakarta Barat

Anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) SMP YMIK saat mengibarkan Bendera Sang Merah Putih.

Team Paduan Suara

Team Paduan Suara SMP YMIK Joglo Jakarta Barat.

Kepala Sekolah SMP YMIK Bpk.Haris S.Ip

Kepsek SMP YMIK Joglo Jakarta Barat.

Guru SMP YMIK

Sukses!!!.

Raih Masa Depanmu disini.....

Pendidikan Investasi Masa Depan?, SMP YMIK Joglo Solusinya!!!.

Rabu, 01 Oktober 2014

Pemilihan Calon Kandidat Ketua dan Wakil OSIS masa bakti 2014-2015


 









Pemilihan Calon Kandidat OSIS masa bakti 2014-2015 menuju Kesuksesan masa depan....

Jakarta,01 Oktober 2014


Rabu Tepatnya tanggal 01 Oktober 2014 merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh Siswa/i SMP YMIK Jakarta,yaitu Pemilihan Calon Kandidat OSIS Masa Bakti 2014-2015 yang diadakan di SMP YMIK Jakarta Barat Pada  Pagi hari sampai siang hari. Calon Kandidat OSIS ada 3, yaitu Kandidat OSIS No.1 Reza Ilhamsyah, No.2 Izam Athoillah Ghofar, dan urutan terakhir (3) Syadam.


Di saat itu juga, SMK YMIK juga sama dengan kegiatan di SMP YMIK,yaitu Pemilihan OSIS dengan jumlah calon kandidat 3.


OSIS adalah Organisasi Kesiswaan Intra Sekolah yang berasal dari sekolah dan mempunyai tugas wewenang agar Kegiatan Sekolah dapat berjalan dengan lancar,tertib,dan aman serta nyaman. Setiap tahun, biasanya OSIS memilih calon Kandidat dari tahun ke tahun yang diambil dari anggota OSIS.Hal yang paling istimewa tahun ini, Ada salah satu guru yang ikut serta turut mencoblos bilik suara untuk memilih calon kandidat OSIS,yaitu Bpk.Sam'un S.Pd

   Akhirnya, dari Pagi sampai Siang Suara Terbanyak dimenangkan Oleh Calon Kandidat No.1 Reza Ilhamsyah, no.2 Izam Athoillah, dan ke 3 Syadam.
 Dan otomatis,sesuai pemilihan langsung dan terbuka bahwa Ketua OSIS Masa Bakti 2014-2015 terpilih yaitu Reza Ilhamsyah dengan jumlah suara terbanyak.

Selamat Bekerja dan Sukses...Amin.


Rabu, 24 September 2014

Pengunggah Soal "4 x 6 atau 6 x 4" Minta Maaf karena Buat Kehebohan di Media Sosial

Pengunggah Soal "4 x 6 atau 6 x 4" Minta Maaf karena Buat Kehebohan di Media Sosial

SEMARANG, KOMPAS.com — Muhammad Erfas Maulana, pengunggah soal Matematika "4 x 6 atau 6 x 4" meminta maaf karena telah membuat kehebohan di media sosial. Ia menuliskan permohonan maaf itu di dinding akun Facebook-nya.

Keriuhan soal "4 x 6 atau 6 x 4" bermula dari posting-an Erfas yang mempertanyakan alasan guru menyalahkan jawaban dari soal yang dikerjakan adik Erfas yang duduk di kelas II sekolah dasar di Semarang, Jawa Tengah. (Baca: Perdebatan soal Angka 4 dalam Perkalian, 4 x 6 atau 6 x 4?)

"Mohon maaf, saya sudah menghebohkan media sosial beberapa hari terakhir ini. Baru saja saya mengkonfirmasikan ini kepada guru. Saya juga sudah meminta maaf sebesar-besarnya kepada beliau. Sekali lagi saya mohon, jangan ada yang menyalahkan guru karena guru sudah mengajarkan sesuai konsep dan buku yang ada. Saya sangat menyesal atas semua yang sudah terjadi. Terima kasih," tulis Erfas di dinding akun Facebook-nya, Senin (22/9/2014). Ia mengedit pernyataan maaf itu hingga empat kali. Redaksional terakhir lebih panjang. 

Posting-an Erfas yang mempertanyakan perbedaan antara 4 x 6 dan 6 x 4 bahkan mengundang komentar sejumlah guru besar perguruan tinggi, seperti Profesor Thomas Djamaluddin dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Profesor Yohanes Surya (pendidik juara olimpiade dunia), dan dosen Matematika ITB, Iwan Pranoto.

Berikut pernyataan permohonan maaf Erfas selengkapnya yang disalin secara utuh dari akun Facebook-nya.

"mohon maaf, saya sudah menghebohkan media sosial beberapa hari terakhir ini. baru saja saya mengkonfirmasikan ini kepada guru. saya juga sudah meminta maaf sebesar-besarnya kepada beliau.

sekali lagi saya mohon, jangan ada yang menyalahkan guru karena guru sudah mengajarkan sesuai konsep dan buku yang ada. sang guru juga tidak menyalahkan pendapat saya.
sesuai kurikulum 2013 yang membebaskan murid menyelesaikan suatu persoalan sesuai kemampuan nalar masing-masing, saran saya adalah untuk memperbaiki buku dengan tidak hanya terfokus dengan satu cara penyelesaian, namun memberikan banyak cara penyelesaian. disitu murid akan memilih cara sesuai pemahaman termudah masing-masing murid.
itu saran saya saja sih, kalo ada yang kurang berkenan dengan saran saya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
berbicara mengenai kurikulum 2013, menurut saya, kurikulum tersebut sangat baik. siswa tidak hanya dituntut untuk mengetahui pengetahuan, namun juga diajari berketrampilan sehingga siswa diharapkan lebih kreatif dan bersikap agar dapat mempunyai moral yang baik saat hidup bermasyarakat. jadi ada 3 aspek penilaian disini, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap.
dengan kurikulum ini, saya melihat bahwa anak-anak lebih senang untuk pergi ke sekolah. mereka menjadi bersemangat karena di sekolah diajari untuk membuat berbagai kerajinan tangan atau membuat sesuatu yang menarik bagi mereka.
mungkin banyak orang tua yang bingung mengenai kurikulum 2013 karena mata pelajaran di kurikulum ini dicampur. misal matematika, ipa, ips, bahasa indonesia, ppkn, dll dilebur menjadi tematik.

menurut saya, hal ini dikarenakan orang tua dari dulu sudah terbiasa menggunakan kurikulum yang mata pelajarannya dipisah, matematika sendiri, bahasa indonesia sendiri, ipa sendiri, dll. coba dari dulu pendidikan di indonesia menggunakan kurikulum dimana mata pelajarannya dicampur seperti kurikulum 2013, saya rasa orang tua pun tidak akan bingung mengajari anaknya sekarang. misal, dari dulu kita terbiasa menuliskan resep obat 3 x 1, dibaca tiga kali sehari, satu butir. bayangkan bila dari dulu resep penulisan obat adalah 1 x 3, dibaca satu butir, tiga kali sehari. semuanya 1 + 1 + 1 . kembali lagi ini semua adalah tentang kebiasaan.
saya rasa, murid yang mendapatkan kurikulum sejak kelas 1 SD tidak akan kebingungan dalam belajar. berbeda lagi bila dari kelas 1 - 3 SD mendapat kurikulum lama yang mata pelajarannya dipisah, namun tiba-tiba saat naik ke kelas 4 SD mereka mendapat kurikulum 2013 dimana mata pelajaran dicampur. disini saya rasa akan terdapat kebingungan pada murid, mereka harus menyesuaikan lagi.
itulah pandangan saya tentang kurikulum 2013, mohon maaf bila ada pihak-pihak yang kurang berkenan.
saya sangat menyesal atas semua yang sudah terjadi, saya tidak ingin memperpanjang semua ini. mungkin ini dapat menjadi pelajaran bagi saya pribadi dan kita semua
terima kasih."

Penting untuk Orang Tua dan Guru, Video Memahami Masalah "4 x 6 atau 6 x 4"

Penting untuk Orang Tua dan Guru, Video Memahami Masalah "4 x 6 atau 6 x 4"


KOMPAS.com — Masih penasaran dengan soal 4 x 6 atau 6 x 4? Untuk para orang tua, kakak, dan tak ketinggalan guru Matematika, ada video YouTube yang layak dilihat agar paham tentang masalah Matematika yang kini tengah jadi perdebatan seru itu.

Pemahaman tentang perkalian yang diberikan dalam video tersebut sedikit berbeda dengan yang ada dalam buku teks Matematika kelas II SD. Hal itu terlihat, misalnya, dalam buku sekolah elektronik karangan Mas Titin Sumarmi dan Siti Kamsiyati yang bisa diunduh lewat situs Kemendikbud.

Contoh persoalan yang dikemukakan dalam buku tersebut ialah, ada tiga sangkar yang masing-masing berisi dua burung. Untuk mengetahui jumlah total burung, dalam Matematika dapat dinyatakan 2 + 2 + 2 atau 3 kali penjumlahan 2, alias 3 x 2.

Itu satu-satunya pemahaman yang disampaikan dalam buku itu. Sesudahnya, anak dihadapkan pada soal.

Video YouTube yang diunggah oleh Khan Academy, sebuah lembaga nirlaba yang berupaya mengembangkan pemahaman Matematika dan Sains, menjelaskan secara berbeda. Khan Academy dikelola oleh sejumlah pakar Matematika dan Fisika.

Dalam video YouTube itu diterangkan secara lengkap tentang cara memahami sebuah operasi perkalian.

Diberikan contoh, perkalian 2 x 3. Perkalian itu bisa dilihat sebagai 3 kali penjumlahan 2, atau 2 + 2 + 2. Namun, perkalian juga bisa dianggap sebagai 2 kali penjumlahan 3, atau 3 + 3. Keduanya sama saja.

Video itu juga memberi pemahaman lewat contoh lain. Ada 12 lemon yang terbagi dalam 4 baris dan 3 kolom yang harus dijumlahkan.

Untuk menghitung lewat operasi perkalian, siapa pun bisa memilih menurut hasil penalarannya. Setiap orang bisa menghitung dengan menalar bahwa ada 3 jeruk pada setiap baris dan ada 4 kolom. Maka, dalam bahasa Matematika bisa dinyatakan 3 + 3 + 3 + 3, yaitu 4 kali penjumlahan 3, alias 4 x 3.

Namun, orang juga bisa menalar bahwa ada 4 jeruk dalam 1 kolom dan ada 3 baris. Dengan bahasa Matematika, dinyatakan 4 + 4 + 4 alias 3 kali penjumlahan 4, atau 3 x 4. Simak video lebih lengkapnya berikut ini.

Soal 4 x 6 atau 6 x 4, Ternyata Tiap Negara Punya Aturan Berbeda

Soal 4 x 6 atau 6 x 4, Ternyata Tiap Negara Punya Aturan Berbeda
Selasa, 23 September 2014 | 13:47 WIB
Yunanto Wiji Utomo Ilustrasi
KOMPAS.com — Setiap negara ternyata punya cara berbeda dalam mengekspresikan perkalian dalam bahasa matematika. Hal tersebut bisa berujung debat seperti kasus 4 x 6 dan 6 x 4 yang terjadi di Indonesia.

Dalam perkalian, dikenal istilah bilangan pengali dan bilangan yang dikali. Keduanya dipisahkan oleh tanda "x" dalam operasi perkalian.

Masalah serupa pada 6 x 4 dan 4 x 6 bisa terjadi karena setiap negara ternyata memiliki aturan berbeda dalam menempatkan pengali dan bilangan yang dikali. Ada negara yang menaruh pengali di depan. Sebaliknya, ada  juga yang menaruh di belakang.

Yohanes Nugroho, master dari jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung dan seorang developer, menjelaskan dalam posting-nya di Facebook, Senin (22/9/2014).

Di Indonesia, Thailand, dan Singapura, urutan penempatan bilangan dalam operasi perkalian adalah "pengali x bilangan yang dikali". Sementara itu, di Jepang serta Kanada, misalnya, urutannya adalah "bilangan x pengali".

Di Amerika, ternyata satu guru dan guru lain bisa berbeda. "Lucu juga karena yang sama-sama pakai bahasa Inggris, tetapi beda urutannya," kata Yohanes.

Untuk menggambarkan perbedaan itu, kita bisa memakai sebuah soal sederhana. Ada 5 piring, masing-masing berisi tiga apel. Berapa total apel yang ada? Dalam pertanyaan ini, pengali adalah jumlah piring, dan bilangan yang dikali adalah jumlah apel per piring.

Dalam bahasa matematika, dengan urutan "pengali x bilangan yang dikali", jawaban dari soal itu menjadi "3 x 5". Jika dengan urutan sebaliknya, maka jawabannya adalah "5 x 3".

Becermin dari hal ini, sebenarnya "6 x 4" dengan "4 x 6" dalam kasus Indonesia bisa sama saja. Namun, menurut kesepakatan di Indonesia, ekspresi 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 yang benar adalah 6 x 4.

Belajar Matematika, Belajar Soal Bangsa


Belajar Matematika, Belajar Soal Bangsa
Senin, 22 September 2014 | 21:49 WIB
KOMPAS.com ilustrasi

Oleh: Didit Putra Erlangga Rahardjo

Sebuah foto yang menampilkan halaman pekerjaan rumah seorang siswa sekolah dasar diunggah di akun Facebook milik Muhammad Erfas Maulana pada 18 September. Buku tersebut milik adiknya bernama Habibi yang tengah mengerjakan pekerjaan rumah terkait dengan perkalian, tetapi penuh dengan coretan tinta merah dan nilai 20. Artinya, jawabannya hanya benar dua dari 10 soal.
Dalam lembar tersebut terdapat pesan Erfas kepada guru adiknya, mempertanyakan alasan sampai harus menjatuhkan nilai 20. Penyebabnya, dia membantu mengajari adiknya menyelesaikan perkalian sederhana 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 dan dijawab 4 x 6 dan hasilnya 24. Ternyata, oleh gurunya, perkalian tersebut dianggap salah dan seharusnya dijawab dengan 6 x 4.
Hal serupa terjadi di nomor- nomor selanjutnya, perkalian dari 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 + 6 yakni 6 x 7 kembali disalahkan, seharusnya memakai perkalian 7 x 6. Dua nomor yang benar karena kebetulan memakai angka yang sama, 4 x 4 dan 8 x 8.
Foto tersebut beredar secara luas. Dari akunnya saja sudah dibagi sebanyak 6.300 kali dan disebar hingga ke media sosial lain, seperti Twitter dan Path. Muncul perdebatan, sebagian mendukung Erfas yang mengajari adiknya untuk menggunakan jalan lain untuk mencapai hasil perhitungan, sedangkan ada pula yang menyalahkannya karena tidak tertib pada proses.
Seorang pengguna Twitter dengan akun @babyrany juga mengungkapkan pengalaman yang sama. Dia mengajari perkalian dengan cara yang sama yang dipakai Erfas dan menghadapi kejadian serupa, 4 x 2 sama dengan 4 + 4, tetapi dianggap salah, sementara jawaban yang diminta adalah 2 + 2 + 2 + 2.
Pendapat yang berbeda dilontarkan akun @OomYahya yang menyebut apa yang diajarkan para guru sebagai konsep dasar yang sudah banyak dilupakan. Dalam matematika, perkalian 3 x 7 adalah 7 + 7 + 7, bukan 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3.
Senada dengan hal tersebut, akun @iwanpranoto milik ahli matematika dari Institut Teknologi Bandung, Prof Dr Iwan Pranoto, menjelaskan bahwa bentuk yang diminta para guru untuk mengajari para murid agar paham mengenai perkalian. Dia mencontohkan perkalian 3 x 4 di buku matematika sekolah di Singapura yang dijelaskan dengan "tiga buah empatan".
Namun, Iwan juga khawatir bahwa para guru salah dalam bertanya atau cara mengoreksi tugas. Apabila menanyakan hasil perkalian 3 x 4 tanpa instruksi lain, artinya sama saja membebaskan para anak untuk menjawab sesuai pengertian mereka.
"Pertanyaan guru seharusnya begini ’Jika 2 x 3 = 3 + 3, tentukan 3 x 4’. Jika dg pertanyaan ini anak jawabnya 3 + 3 + 3 + 3, barulah SALAHKAN," kicaunya.
Meskipun tampak sepele, lembar pekerjaan rumah Habibi bisa menjadi potret pendidikan di Indonesia. Masih banyak ditemukan dogma dan tidak membebaskan para murid untuk bernalar sendiri.

Era Jokowi-JK, Matematika Digabung dengan Budi Pekerti

Era Jokowi-JK, Matematika Digabung dengan Budi Pekerti



JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla bakal merestrukturisasi kurikulum pendidikan Indonesia. Menelurkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi dan memiliki etos kerja yang baik merupakan tujuan kebijakan kurikulum itu.

Presiden terpilih Joko Widodo mengatakan, kurikulum baru nanti akan mengutamakan pembangunan karakter dengan berlandaskan budi pekerti dan nilai-nilai kebudayaan Indonesia. Bentuknya, setiap mata pelajaran yang ada akan dikombinasikan dengan materi budi pekerti.

"Misalnya, bahasa Indonesia, sambil diisi oleh character building. Misalnya lagi, matematika digabungkan dengan budi pekerti, ditambah nilai-nilai kejujuran," ujar Jokowi di sela-sela aktivitasnya, Selasa (23/9/2014).

"Identitas anak-anak itu harus dibangun dari budi pekerti, sopan santun, kerukunan. Ingat, ini Indonesia. Nanti akan muncul anak-anak yang mampu bersaing dan punya etos kerja yang tinggi," lanjut Jokowi.

Komposisi pelajaran eksak dengan sosial, kata Jokowi, bakal dibagi-bagi. Di tingkat sekolah dasar (SD), 75 persen mata pelajaran akan menitikberatkan ke pembangunan karakter, budi pekerti dan pengenalan nilai-nilai budaya Indonesia. Sisanya baru pengenalan terhadap mata pelajaran ilmiah.

Ketika memasuki tingkat sekolah menengah pertama (SMP), komposisi antara pelajaran eksak dengan sosial, mulai diseimbangkan. Pelajaran eksak baru akan mendominasi saat sang anak memasuki sekolah menengah atas (SMA). Dengan tahapan demikian, Jokowi yakin revolusi mental generasi selanjutnya akan terjadi.

"Sistem itu akan melahirkan anak-anak yang punya integritas. Misalnya, nanti dia bekerja di birokrasi, integritas semacam itu yang diperlukan. Tidak korupsi, etos kerjanya baik," ucapnya.

Jokowi mengatakan, rencana kurikulum itu telah siap. Begitu dilantik, Jokowi langsung tancap gas mengimplementasikan kurikulum pendidikan tersebut.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Ana Shofiana Syatiri

Pelantikan & Pengukuhan Gudep 08.037 - 08.038

Jakarta,12 September 2014

Pelantikan & Pengukuhan Gudep 08.037 - 08.038

Gerakan Pramuka Gugus Depan 08.037-08.038 Pangkalan SMP YMIK Joglo Wilayah Adminsitrasi Jakarta Barat menggelar Pelantikan & Pengukuhan Bagi Ka Mabigus dan Dewan Guru Serta Ka Pembina. Dihadiri Oleh Bpk.Ka Kwarcab Jakarta Barat beserta jajarannya serta perwakilan dari SMPN 219 Jakarta Barat. 

  Gerakan Pramuka di tahun 80 an pernah berjaya di Jakarta Barat terutama Pangkalan Kami. Sekarang kita kembali menjayakan Gerakan Pramuka 08.037-08.038 dengan pantan g menyerah, integritas kepemimpinan yang kuat, dan persatuan kesatuan yang erat demi mewujudkan cita-cita Gerakan Pramuka ini.

Jadi,Gerakan Pramuka Pangkalan SMP YMIK sudah resmi ditetapkan sesuai pedoman dari Pemerintah dan Kwarcab.Di Bulan yang sama juga,Hari Tanggal Sabtu, 20 September 2014 Kakak Dewan Penggalang dilantik menjadi anggota Gerakan Pramuka Pangkalan SMP YMIK,Semoga Gerakan Pramuka SMP YMIK terus berkembang menjadi Gerakan Pramuka yang lebih baik dan sukses serta memandu Pemuda Pemudi Indonesia yang hebat agar terus berkarya dan berjaya.Amiin

Catatan :
Foto-Foto Pelantikan bisa dilihat di Facebook Pramuka SMP YMIK Joglo.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Guru Optimistis, Pendekatan Kurikulum 2013 Sangat "Scientific"

Guru Optimistis, Pendekatan Kurikulum 2013 Sangat "Scientific"

Selasa, 12 Agustus 2014 | 11:30 WIB
M Latief/KOMPAS.com Kurikulum 2013 bagus untuk membentuk generasi emas. Karena itu, lanjut dia, guru harus bisa mem-breakdown tingkah laku dan kemampuan anak didiknya.KOMPAS.com — Implementasi Kurikulum 2013 secara serentak dilaksanakan pada tahun pelajaran baru 2014/2015, yang dimulai pada Senin (4/8/2014). Di hadapan puluhan wartawan saat jumpa pers di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengundang delapan guru yang bertugas di Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan pendapatnya mengenai Kurikulum 2013.

Silmi Martini, guru SD 03 Pulo Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mengaku sedikit ragu pada perubahan kurikulum. Ia mengaku sempat gamang.

"Awalnya saya gamang. Namun, setelah mendalaminya, saya optimistis pendekatan pada Kurikulum 2013 sangat scientific. Anak dipacu mengalami, lalu menalar. Semua indera dipakai dan mengeksplorasi," tutur Silmi.

Silmi juga menceritakan, dirinya ditunjuk oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) DKI Jakarta untuk menjadi instruktur nasional (IN). Saat pertama memberikan pelatihan kepada guru, ia mengaku bahwa banyak guru yang menganggap Kurikulum 2013 sulit.

"Kurikulum 2013 itu ribet, itu kata mereka pada segmen pertama. Akan tetapi, begitu masuk pelatihan hari ketiga, para guru itu mulai memahami dan menerima konsep Kurikulum 2013," ujarnya.

Sementara itu, Dwi Herawati, guru lainnya di SD 03 Pulo Kebayoran Baru mengaku sempat kesulitan dalam memahami cara memberikan penilaian untuk peserta didik. Namun, ia kemudian dapat memahaminya setelah mengikuti pelatihan selama seminggu.

"Saya optimistis karena ini baik, dan mengutamakan budi pekerti, terutama di SD," katanya.

Sebagai perwakilan kepala sekolah, hadir juga Kardiman, Kepala SD 01 Pulo, Kebayoran Baru. Ia mengaku telah mengadakan sosialisasi Kurikulum 2013 kepada orangtua murid.

Awalnya, menurut Kardiman, banyak orangtua pesimistis mendengar Kurikulum 2013 hanya menargetkan aspek kognitif sebesar 20 persen. Namun, akhirnya mereka mengerti setelah dijelaskan bahwa ada tiga kompetensi yang ditekankan dalam Kurikulum 2013, yaitu attitude (perilaku), skill (keterampilan), dan knowledge (pengetahuan).

"Sekarang kita butuh anak yang punya moral dan sikap yang baik," ucap Kardiman.

Pada jenjang SMP, hadir juga Widiana, guru SMP 19 Jakarta. Dia mengatakan, Kurikulum 2013 bagus untuk membentuk generasi emas. Karena itu, lanjut dia, guru harus bisa memerinci tingkah laku dan kemampuan anak didiknya.

"Seorang guru harus dapat melihat apa pun kemampuan seorang anak. Dari situlah kemudian guru dapat mem-breakdown dan membimbing peserta didiknya," kata Widiana.

Dia juga memberikan usul kepada Mendikbud untuk mendukung terbentuknya moral murid yang baik sebelum terjun ke masyarakat, yaitu dengan meniru program dari luar negeri, misalnya service learning.

"Saya punya usul, banyak pelajar sebagai manusia zombie, seperti suka tawuran. Saya usul service learning. Itu kewajiban mereka untuk menamatkan sekolah dengan membantu masyarakat," katanya.