Team Regu Inti Gudep 08.037-08.038 Pangkalan SMP YMIK

Selamat Datang di Website Sekolah Resmi SMP YMIK,Klik : www.pramukasmpymik.blogspot.com/.

Pengarahan Untuk Kelas IX 2013-2014 Saat Menjelang UN

Pengarahan yang disampaikan Oleh Bpk.Apit S.Pd (Selaku Wakasek) SMP YMIK Joglo Jakarta Barat.

Team Anggota Paskibraka SMP YMIK Joglo Jakarta Barat

Anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) SMP YMIK saat mengibarkan Bendera Sang Merah Putih.

Team Paduan Suara

Team Paduan Suara SMP YMIK Joglo Jakarta Barat.

Kepala Sekolah SMP YMIK Bpk.Haris S.Ip

Kepsek SMP YMIK Joglo Jakarta Barat.

Guru SMP YMIK

Sukses!!!.

Raih Masa Depanmu disini.....

Pendidikan Investasi Masa Depan?, SMP YMIK Joglo Solusinya!!!.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Guru Optimistis, Pendekatan Kurikulum 2013 Sangat "Scientific"

Guru Optimistis, Pendekatan Kurikulum 2013 Sangat "Scientific"

Selasa, 12 Agustus 2014 | 11:30 WIB
M Latief/KOMPAS.com Kurikulum 2013 bagus untuk membentuk generasi emas. Karena itu, lanjut dia, guru harus bisa mem-breakdown tingkah laku dan kemampuan anak didiknya.KOMPAS.com — Implementasi Kurikulum 2013 secara serentak dilaksanakan pada tahun pelajaran baru 2014/2015, yang dimulai pada Senin (4/8/2014). Di hadapan puluhan wartawan saat jumpa pers di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengundang delapan guru yang bertugas di Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan pendapatnya mengenai Kurikulum 2013.

Silmi Martini, guru SD 03 Pulo Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mengaku sedikit ragu pada perubahan kurikulum. Ia mengaku sempat gamang.

"Awalnya saya gamang. Namun, setelah mendalaminya, saya optimistis pendekatan pada Kurikulum 2013 sangat scientific. Anak dipacu mengalami, lalu menalar. Semua indera dipakai dan mengeksplorasi," tutur Silmi.

Silmi juga menceritakan, dirinya ditunjuk oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) DKI Jakarta untuk menjadi instruktur nasional (IN). Saat pertama memberikan pelatihan kepada guru, ia mengaku bahwa banyak guru yang menganggap Kurikulum 2013 sulit.

"Kurikulum 2013 itu ribet, itu kata mereka pada segmen pertama. Akan tetapi, begitu masuk pelatihan hari ketiga, para guru itu mulai memahami dan menerima konsep Kurikulum 2013," ujarnya.

Sementara itu, Dwi Herawati, guru lainnya di SD 03 Pulo Kebayoran Baru mengaku sempat kesulitan dalam memahami cara memberikan penilaian untuk peserta didik. Namun, ia kemudian dapat memahaminya setelah mengikuti pelatihan selama seminggu.

"Saya optimistis karena ini baik, dan mengutamakan budi pekerti, terutama di SD," katanya.

Sebagai perwakilan kepala sekolah, hadir juga Kardiman, Kepala SD 01 Pulo, Kebayoran Baru. Ia mengaku telah mengadakan sosialisasi Kurikulum 2013 kepada orangtua murid.

Awalnya, menurut Kardiman, banyak orangtua pesimistis mendengar Kurikulum 2013 hanya menargetkan aspek kognitif sebesar 20 persen. Namun, akhirnya mereka mengerti setelah dijelaskan bahwa ada tiga kompetensi yang ditekankan dalam Kurikulum 2013, yaitu attitude (perilaku), skill (keterampilan), dan knowledge (pengetahuan).

"Sekarang kita butuh anak yang punya moral dan sikap yang baik," ucap Kardiman.

Pada jenjang SMP, hadir juga Widiana, guru SMP 19 Jakarta. Dia mengatakan, Kurikulum 2013 bagus untuk membentuk generasi emas. Karena itu, lanjut dia, guru harus bisa memerinci tingkah laku dan kemampuan anak didiknya.

"Seorang guru harus dapat melihat apa pun kemampuan seorang anak. Dari situlah kemudian guru dapat mem-breakdown dan membimbing peserta didiknya," kata Widiana.

Dia juga memberikan usul kepada Mendikbud untuk mendukung terbentuknya moral murid yang baik sebelum terjun ke masyarakat, yaitu dengan meniru program dari luar negeri, misalnya service learning.

"Saya punya usul, banyak pelajar sebagai manusia zombie, seperti suka tawuran. Saya usul service learning. Itu kewajiban mereka untuk menamatkan sekolah dengan membantu masyarakat," katanya.

Mendikbud : Tingkatkan Akses dan Kualitas Pendidikan

Mendikbud: Tingkatkan Akses dan Kualitas Pendidikan

Kamis, 21 Agustus 2014 | 17:00 WIB
M Latief/KOMPAS.com Menurut Mendikbud Mohammad Nuh, beberapa kebijakan untuk mendapatkan layanan pendidikan dipengaruhi oleh ketersediaan dan keterjangkauan, di antaranya melalui BOS untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, Pendidikan Menengah Universal (PMU) atau wajib belajar 12, Bantuan Siswa Miskin (BSM), Bidikmisi.
KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam sambutannya menyambut HUT Kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia di kantor Kemendikbud, Minggu (17/8/2014) lalu, menyampaikan dua hal mendasar terkait layanan pendidikan. Kedua hal tersebut adalah akses dan kualitas pendidikan.

Pertama, menurut Mendikbud, untuk mendapatkan layanan pendidikan dipengaruhi oleh ketersediaan dan keterjangkauan. Beberapa kebijakan tersebut di antaranya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, Pendidikan Menengah Universal (PMU) atau wajib belajar 12, Bantuan Siswa Miskin (BSM), Bidikmisi.

Selanjutnya, lanjut Mendikbud, pengiriman guru untuk daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal melalui program SM3T, Bantuan Operasional untuk Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN), pendirian perguruan tinggi negeri baru dan sekolah berasrama.

"Ini semua merupakan upaya untuk meningkatkan akses secara inklusif dan berkeadilan," ujar Mendikbud.

Mendikbud mengatakan, berbagai kebijakan tersebut membuat akses untuk mendapatkan layanan pendidikan meningkat drastis. Contohnya adalah Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk sekolah menengah pada 2004 hanya mencapai 49 persen, dalam kurun waktu 10 tahun naik menjadi 82 persen pada 2013. Demikian juga untuk Perguruan Tinggi pada tahun 2004 hanya mencapai 14,6 persen, naik menjadi 29,9 persen pada 2013.

Hal kedua, Mendikbud memaparkan kualitas pendidikan. Dia mengatakan, kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas guru, kurikulum, serta sarana dan prasarana. Pengembangan kapasitas dan profesionalitas guru melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan mutlak diperlukan. Dengan kapasitas dan profesionalitas itulah, tutur Mendikbud, diharapkan kinerja dunia pendidikan semakin baik.

"Berdasarkan peningkatan kinerja itu harus kita tingkatkan kesejahteraan dan perlindungan terhadap pendidik dan tenaga kependidikan," kata Mendikbud.

Saat ini, pengembangan kapasitas dan profesionalitas guru melalui pendidikan dan pelatihan pada penerapan Kurikulum 2013 telah dilatih sekitar 1,3 juta guru. Mendikbud mengatakan, penerapan Kurikulum 2013 tersebut dimaksudkan untuk membekali para peserta didik agar memiliki kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara utuh.

"Mereka diharapkan mampu berpikir kreatif dan inovatif, berkarakter mulia, cinta dan bangga menjadi warga Indonesia," katanya.

Penerapan Kurikulum 2013 perlu juga disiapkan sarana dan prasarana yang memembuhi standar layanan minimal. Selama periode 2010 – 2014, telah dilakukan rehabilitasi 246.688 ruang kelas tidak layak, dibangun 44.552 ruang kelas baru dan 3.189 unit sekolah baru.

"Itu semua harus kita lakukan dan tingkatkan agar anak-anak kita mampu menjawab berbagai persoalan dan tantangan sesuai dengan zamannya, sekaligus menyiapkan generasi emas, serta menyongsong kejayaan Indonesia tahun 2045," ujar Mendikbud.

(SENO HARTONO)

Para Guru Siap Sukseskan Kurikulum 2013


KURIKULUM

Para Guru Siap Sukseskan Kurikulum 2013

Rabu, 13 Agustus 2014 | 11:13 WIB
M Latief/KOMPAS.com Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerapkan kurikulum 2013 sejak tahun lalu. Tahun ini pelaksanaan kurikulum tersebut akan dilakukan secara menyeluruh dan bertahap

KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerapkan kurikulum 2013 sejak tahun lalu. Tahun ini pelaksanaan kurikulum tersebut akan dilakukan secara menyeluruh dan bertahap.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh pada jumpa pers implementasi Kurikulum 2013 di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Senin (21/07/2014) lalu menekankan, bahwa ada lima nilai dasar dari Kurikulum 2013 yaitu cinta kasih, jujur, disiplin, bersih, dan toleransi. Menurut Mendikbud, kelima nilai dasar tersebut sangat diperlukan bagi tunas bangsa pada zaman sekarang.

"Penanaman budi pekerti yang diimbangi dengan pengetahuan akan membuat para anak bangsa bisa mengubah kondisi negara kita menjadi lebih baik dari yang sebelumnya," kata Nuh.

Menanggapi hal itu, Kepala Sekolah SD Pulo 03 Kebayoran Baru, Hardiman mengatakan, pihaknya optimistis Kurikulum 2013 akan berjalan sebagaimana mestinya. Dia yakin, Kurikulum 2013 akan membawa level pendidikan Indonesia memasuki jenjang baru.

"Karena kurikulum ini lebih mengedepankan kreativitas, inovatif, dan efektivitas dari para siswa-siswi," ujarnya.

Senada dengan Hardiman, Widiana, guru PKN SMPN 19 Jakarta mengatakan bahwa saat ini penyelenggaran Kurikulum 2013 di sejumlah sekolah berjalan mulus walaupun terdapat kesulitan, misalnya hal penilaian secara otentik. Namun, kendala itu hanya di awalnya saja. Penilaian otentik akan mudah apabila telah dipersiapkan sebelumnya seperti membuat form khusus.

"Lama-lama akan terbiasa," kata Widiana.

Dia dan para guru sepakat mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 dan siap mempraktikkannya dalam kegiatan belajar mengajar. (DANE/ASW)

Membaca Kurikulum 2013

Membaca Kurikulum 2013

Rabu, 20 Agustus 2014 | 22:38 WIB
Dok Kemendikbud Rata-rata jumlah jam pelajaran negara OECD sebanyak 6.800 jam per tahun, sedangkan Indonesia hanya 6.000 jam per tahun.




Oleh:

Jika tahun lalu Kurikulum 2013 hanya diterapkan terbatas di sejumlah sekolah tertentu, mulai tahun 2014, kurikulum tersebut diterapkan serentak di semua tingkat pendidikan dasar dan menengah di seluruh Indonesia. Implementasi kurikulum itu terkesan kedodoran akibat sejumlah persoalan di lapangan.

Penerapan Kurikulum 2013 di awal ajaran baru 2014/2015 tidak berjalan mulus. Sejumlah persoalan mencuat terkait implementasi kurikulum tersebut, mulai dari guru belum siap karena belum mendapat pelatihan hingga keterlambatan buku teks siswa. Persoalan itu mengakibatkan kegiatan pembelajaran di sekolah terkendala.

Kendati diberlakukan secara serentak di seluruh sekolah mulai Juli lalu, pelaksanaan Kurikulum 2013 terkesan dipaksakan. Hal itu tampak dari waktu pelaksanaan pelatihan para guru yang singkat dan mepet dengan jadwal tahun ajaran baru, 14 Juli 2014. Pelatihan yang singkat itu membuat guru sulit mengubah cara berpikir dan perilaku mengajar di depan kelas, dari kebiasaan sebagai penceramah menjadi fasilitator.

Selain itu, tidak semua guru mendapat pelatihan terkait kurikulum baru tersebut. Di Papua, misalnya, baru 37 persen guru sasaran yang dilatih. Padahal, menjelang pelaksanaan Kurikulum 2013 pada tahun ajaran baru 2014-2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengklaim sudah melatih 1,2 juta guru di seluruh Indonesia.

Persoalan lain adalah buku paket yang menjadi pegangan siswa dan guru sejauh ini belum terdistribusi secara merata. Dari pantauan Federasi Serikat Guru Indonesia, keterlambatan buku Kurikulum 2013 terjadi di sejumlah daerah, seperti di Jakarta, Purbalingga, Bekasi, Depok, Bogor, Indramayu, Garut, Tasikmalaya, Bima, Mataram, Medan, Batam, dan Sumenep.

Tak hanya itu, di sejumlah sekolah yang sudah menerima buku pelajaran pun belum semua buku pelajaran lengkap tersedia. Ada lagi sekolah yang sudah menerima buku pelajaran untuk semua mata pelajaran, tetapi jumlah buku yang diterima masih kurang dibandingkan dengan jumlah murid.

Idealnya, keberadaan buku pelajaran sudah ada di sekolah minimal tiga bulan sebelum dipergunakan. Dengan begitu, sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, baik siswa maupun guru dapat mempelajarinya lebih dulu sebagai persiapan.

Situasi itu memunculkan penolakan implementasi Kurikulum 2013 di sejumlah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, terutama di Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara. Penolakan itu resmi disampaikan oleh Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) jenjang SMA dan SMK yang terang-terangan belum siap melaksanakan implementasi kurikulum baru seperti yang dikatakan Ketua Umum Pengurus Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo bulan lalu.
Tunjangan profesi

Persoalan lain terkait kurikulum yang muncul di ranah publik adalah kekhawatiran hilangnya tunjangan profesi guru. Tunjangan profesi guru mensyaratkan guru wajib memenuhi 24 jam mengajar per pekan di sekolah untuk dapat mencairkan tunjangan profesi. Namun, implementasi kurikulum baru mengakibatkan beban mengajar guru di sekolah pada pelajaran tertentu berkurang.

Penambahan jam belajar di kelas menambah persoalan lain. Meski jumlah mata pelajaran berkurang, penerapan Kurikulum 2013 memberikan konsekuensi penambahan jam belajar rata-rata empat jam per minggu untuk setiap jenjang pendidikan, mulai dari SD hingga SLTA. Tambahan jam belajar itu mencuatkan polemik jadwal hari sekolah dari lima hari menjadi enam hari dalam seminggu.

Di Jakarta, misalnya, Dinas Pendidikan DKI berencana menerapkan enam hari masuk sekolah untuk sekolah-sekolah yang biasanya libur pada Sabtu. Dengan demikian, siswa tidak harus pulang sore jika sekolah selama enam hari. Rencana itu menuai reaksi sejumlah kalangan, terutama para orangtua murid. Bahkan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku kurang setuju dengan rencana penerapan enam hari masuk sekolah itu karena dengan masuk hingga Sabtu, para siswa akan kekurangan waktu bersama keluarga. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun akhirnya mengambil keputusan untuk membatalkan rencana pemberlakuan enam hari sekolah itu.

Sejatinya persoalan itu tak beranjak jauh dari tahun lalu. Awal penerapan Kurikulum 2013 pada tahun ajaran lalu terlihat kedodoran. Menurut rencana, Kurikulum 2013 akan diberlakukan pada 30 persen SD kelas I dan IV di setiap kabupaten/kota di semua provinsi. Sementara untuk SLTP dan SLTA diberlakukan di kelas VII dan X di semua sekolah. Namun, belakangan rencana itu berubah dan hanya diterapkan di 6.325 sekolah atau hanya dua persen dari total sekolah.

Saat penerapan awal itu muncul persoalan minimnya pelatihan guru dan keterlambatan buku teks. Dari sisi pelatihan, misalnya, Kemdikbud mengklaim telah melatih 61.074 guru yang terdiri dari 572 instruktur nasional, 4.740 guru inti, dan 55.762 guru sasaran. Namun, dalam praktik, pelatihan itu terkesan mendadak dan waktu pelaksanaannya hanya 33 jam serta mepet dengan dimulainya ajaran baru.

Tak hanya pelatihan guru yang kedodoran, Kemdikbud juga mengklaim 95 persen buku-buku untuk keperluan penerapan Kurikulum 2013 telah didistribusikan di seluruh Indonesia. Namun, pendistribusian ke beberapa sekolah yang ditunjuk pemerintah belum merata.
Terburu-buru

Pangkal persoalan kurikulum itu tak bisa lepas dari penyusunan Kurikulum 2013 yang terburu-buru. Meski pemerintah mengklaim penyusunan Kurikulum 2013 dimulai sejak 2010, kenyataannya rencana itu baru terungkap akhir 2012 dan langsung diterapkan pada 2013 di 6.325 sekolah SD-SLTA, terutama yang berakreditasi A.

Penerapan awal kurikulum itu menuai pro-kontra. Pihak yang mendukung pemerintah menilai, kurikulum sebelumnya sangat membebani siswa. Selain jumlah mata pelajaran terlalu banyak, substansinya kurang menekankan pada pembentukan karakter siswa sehingga tawuran, plagiarisme, dan berbagai perilaku negatif lain masih melekat dengan siswa. Sebaliknya, pihak yang menolak Kurikulum 2013 menilai, substansi kurikulum itu bagus tetapi penerapannya tergesa-gesa.

Substansi Kurikulum 2013 dinilai bagus oleh sejumlah kalangan karena memakai pendekatan tematik integratif. Pola pengajaran tidak lagi berdasarkan mata pelajaran secara spesifik, tetapi berdasarkan tema. Tujuan akhirnya adalah kompetensi lulusan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.

Pola ini membawa konsekuensi, beberapa mata pelajaran dihapus atau digabung menjadi satu tema. Perubahan ini berdampak pada jumlah mata pelajaran lebih sederhana. Namun, penggabungan mata pelajaran ”menghilangkan” pengakuan terhadap kompetensi guru mata pelajaran tertentu. Alhasil, di kalangan pengajar muncul kekhawatiran hilangnya tunjangan profesi guru yang selama ini diberikan pemerintah. (LITBANG KOMPAS)

Mengenang Pelepasan Kelas IX Angkatan 2013-2014 , Kecerian Guru-Guru SMP YMIK


 

 



 


 

 



 

 




SMP YMIK






Mari Kita mengenang Pelepasan Kelas IX Akt.2013/2014 yang dulu, Belajar Bersama, Tertawa Bersama, Sedih Bersama senang dan gembira bersama kita lalui, Semoga Kalian melanjutkan Prestasi kalian di sekolah yang tinggi di selanjutnya.
Tetap Semangat....

Akreditasi Uji Kelayakan Sekolah.

Alhamdulilah,Tahun 2014 ini Sekolah Kami akan diuji Kelayakan Sekolah untuk mendapatkan Akreditasi. Akreditasi yaitu suatu Kegiatan Penilaian kelayakan dan kinerja suatu sekolah berdasarkan kritea (standar) yang telah ditetapkan dan dilakukan Oleh Badan Akreditasi Sekolah Nasional (BASNAS) yang hasilnya diwujudkan dalam bentuk pengakuan peringkat kelayakan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional 087/U/2002.Kegiatan Akreditasi Ini diuji Pada Bulan September-Oktober, Semoga Sekolah Kami mendapatkan kelayakan yang memuaskan dan hasilnya baik dan bermutu.Amiin

Senin, 18 Agustus 2014

Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 69, berjalan dengan lancar dan tertib.

Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan yang ke 69, berjalan dengan lancar

Oleh Admin
[Jakarta,18 Agustus 2014]
Bertempat di halaman SMP YMIK telah dilaksanakan Upacara Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69, sebagai pembina upacara KepalaSMP YMIK Jakarta yang diikuti oleh seluruh Warga Sekolah SMP YMIK. Dirgahayu Republik Indonesia ke 69, pada tahun 2014 ini mengambil tema Tema “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Dukung Suksesi Kepemimpinan Nasional Hasil Pemilu 2014 Demi Kelanjutan Pembangunan Menuju Indonesia yang Makin Maju dan Sejahtera” .
       Alhamdulilah,Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan yang ke 69 di Lapangan SMP YMIK berjalan dengan lancar dan tertib.Suasana Sarak Kemerdekaan Indonesia diliputi dengan rasa senang dan bahagia oleh Siswa/i dan diikuti serta Kegiatan Lomba 17 Agustus, Seperti Lomba Bermain Futsal dengan memakai rok, memasukkan paku ke dalam botol, berjoget dengan balon, dsb.
       Semoga dengan Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 69 ini, Siswa/i Menjadi Semangat dalam Belajar menuntut ilmu untuk masa depan serta Semoga Nilai-Nilai Nasionalisme dan Patriotisme tetap ada di diri kita masing-masing.

Minggu, 17 Agustus 2014

Mendikbud : Penambahan Jam Belajar Untuk Memangkas Ketertinggalan

Mendikbud: Penambahan Jam Belajar untuk Memangkas Ketertinggalan

 
Sabtu, 16 Agustus 2014 | 12:04 WIB
KOMPAS. com/Indra Akuntono Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh
JAKARTA, KOMPAS.com — Jumlah jam pelajaran di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara maju berpendapatan tinggi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Rata-rata jumlah jam pelajaran negara OECD sebanyak 6.800 jam per tahun, sedangkan Indonesia hanya 6.000 jam per tahun.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menyampaikan, negara seperti Australia bahkan mencapai hampir 8.000 jam per tahun. Sementara itu, jumlah jam pelajaran Israel, Belanda, Italia, Spanyol, Meksiko, Perancis, Inggris, Jerman, dan Jepang, di atas 7.000 jam per tahun.

"Artinya, jumlah jam pelajaran di Indonesia dibandingkan dengan negara lain masih relatif lebih rendah. Meskipun hampir sama, sebagian besar melebihi kita," katanya di Jakarta, Kamis (14/8/2014).

Mendikbud lebih lanjut menjelaskan, ada beberapa negara, seperti Korea dan Finlandia, yang punya jumlah jam pelajaran lebih sedikit dibandingkan Indonesia. Namun, menurut Mendikbud, hal ini dikarenakan jumlah guru yang membimbing di kelas lebih banyak. Dia mencontohkan, di Finlandia, satu kelas bukan diisi 30-40 siswa, tetapi per kelompok kecil sehingga lebih efektif.

"Karena jumlah kelompok lebih kecil, efektivitasnya pun juga tambah besar. Selain itu, mereka tidak memiliki hambatan untuk gaji (guru),” katanya.


Dok Kemendikbud Rata-rata jumlah jam pelajaran negara OECD sebanyak 6.800 jam per tahun, sedangkan Indonesia hanya 6.000 jam per tahun.
Mendikbud mengatakan, dengan melihat kondisi tersebut dan pertimbangan kondisi sosial masyarakat, pemerintah mengambil kebijakan menaikkan jumlah jam pelajaran. Dengan adanya penambahan ini, Mendikbud memastikan bahwa tidak ada penambahan biaya, bahkan mengatasi keluhan dari para guru yang kekurangan jam mengajar.

"Naiknya 4-6 jam per minggu, bukan per hari. Masih tidak terlalu berat sebenarnya," katanya.

Mendikbud menambahkan, pada struktur Kurikulum 2013, jumlah jam mengajar untuk sekolah dasar/madrasah ibtidaiah naik dari 26-32 jam pada Kurikulum 2006 menjadi 30-36 jam pada Kurikulum 2013. Jika dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, kata Mendikbud, maka jam pelajaran untuk SD bertambah 35-40 menit per hari.

"Kalau 30 jam (per minggu) dan masuknya pukul 07.00, maka pukul 11.00 sudah pulang," katanya.

Sementara itu, jumlah jam pelajaran untuk sekolah menengah pertama/madrasah sanawiah dinaikkan dari 32 jam pada Kurikulum 2006 menjadi 38 jam pada Kurikulum 2013. Adapun jumlah jam pelajaran untuk pendidikan menengah sebanyak 24 jam pada kelompok mata pelajaran wajib, sementara kelompok peminatan SMA 18-20 jam dan SMK 26 jam. (AGUNG SW)